Tiga Tahun Lagi Pensiun

Teng…teng…teng…suara lonceng menengarai percakapan siang itu
Dirapikannya buku tebal nan kusam itu
Cepat langkah murid-murid berteriak kegirangan
Berjejal penuhi jalan pulang
Tubuh kering itu tak lagi mampu bersaing
Mengurai langkah kaki terbata-bata
Geram berbisik was was
Tinggallah tiga tahun ia bersanding dengan waktu

8 Januari 2012



Mama…

Sudah dua jam dia duduk termenung di pojok stasiun kereta. Pakaian putih merah masih melekat di badan gadis kecil itu. Persis seragam sekolah tingkat dasar. Matanya memandang ke segala penjuru arah, menengok ke kanan dan ke kiri layaknya menunggu seseorang yang akan tiba. Sesekali dia mengusap keringat yang membasahi keningnya. Petugas stasiun medekatinya lalu mencoba mengajak bicara. Gadis kecil itu sontak menangis dengan kencangnya. Semua orang disekitarnya dibuat bingung oleh jeritan tangisnya. Kemudian datanglah seorang lelaki yang berpakaian rapi dengan sehelai dasi berwarna merah tua yang melilit di leher kemejanya berlari menghampiri kerumunan itu. Lelaki itu dengan sigap langsung menggendong gadis kecil itu di pundaknya dan berkata, “dia tidak akan kembali lagi nak.”
19 Februari 2012

Perempuan-perempuan Jerami


Terlalu sukar untuk menilaimu.
Pantang bagi siapapun melarangmu.

Dunia adalah sahabatmu.
Walau terkadang dia juga lebih sering menghianatimu.
Khianat terhadap kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkannya.
Menjadi sumbu pemicu arah penyesalan.

Terik matahari mengikuti jejak langkahmu menelusuri jalan kecil di sepanjang pematang sawah.
Topi anyaman enau kau jadikan pelindung dari panasnya.
Tulangmu terlalu kuat untuk menjadi tiang penyangga Ampera.
Semangatmu membutakan dosa seorang hamba.
Mata telanjangmu sangat teliti mengintip ke setiap tumpukan jerami-jerami.
Memungut sisa padi yang ditinggalkan petani.
Tidak pantas jika dinafikan sebagai pencuri.

Bila senja tiba, kau bergegas mengemasi kantong putih itu.
Mencari arah jalan menuju persinggahan disetiap malammu.
Menaati hukum alam dalam pembaringan.
Melepas keluh kesah dalam peraduan.
Sedang esok waktu mengundang dalam penantian.
Menanti perempuan-perempuan jerami kembali datang.

30 Juli 2011

Nestapa

Keyakinanku kini mulai goyah
Terombang ambing oleh dentuman-dentuman nestapa
Benarkah ini ujian dari sang pemilik segala
Atau hanya diriku saja yang tak menyadarinya
Tak seorangpun tau akan itu

Yang ku tahu kini aku hanyalah seorang pengembara yang tersesat
Tersesat dalam lingkaran ketidakpastian
Menunggu jawaban yang tak kunjung datang.



14 Februari 2011

Kelana

adalah keraguan dalam dirimu
tak ubahnya seekor burung
yang tersesat dalm gumpalan hujan,
seekor ikan yang terhempas terjangan ombak ganas

diam terpaku menunggu kepastian yang terselimuti
bayang-bayang hitam selalu menghantuimu,
merambah jwa-jiwa kosong,
menyelimuti kalbu yang hampa

termakan rayuan sang mimpi
terbuai kau dibuatnya
tak kau sadari jiwamu
melayang-layang di angkasa
berharap jadi kenyataan


K.A

Setetes Harapan


Lalu lalang tanpa arah
Bak kapas ditiup angin
Terhempas ke utara selatan
Tak sadar dibuatnya


Cahaya kecil Nampak di sudut kegelapaan
Menuntun ke jalan terang
Berkelok-kelok
Tertatah-tatah
Tapi penuh asa


Semangat jiwa membara
Menggebu-gebu di dada
Asa ingin mewujudkannya

sajak yang hilang

...lembaran-lembaran itu tercecer lagi, ah nampaknya sudah tidak ada yang mau menata dan mengurus lagi. Bagaimana tidak apa istimewanya kertas-kertas kusam berdebu itu, toh kalo disimpan membuat kamarku semakin sempit saja. Tapi setidaknya dibalik itu semua ada berjuta-juta rasa gundah gulana dari sang penulisnya. Jelas sekali sebagian goresan-goresan tintanya kabur tertindih air mata. Ah mungkin sang penulis habis mengupas bawang didapur atau mungkin ada debu yang masuk kematanya. Mustahil kalau terus-terusan begitu. Disetiap lembaran tulisanya selalu ku temukan bekas percikan air yang tak lain adalah tetesan air mata.
Aku hanya bisa memandangi tulisan-tulisan itu. Entah apa maksudku akupun juga tak tahu. Setiap ku goreskan tinta itu seolah ujung pena itu telah menyatu dengan jiwaku...