sajak yang hilang

...lembaran-lembaran itu tercecer lagi, ah nampaknya sudah tidak ada yang mau menata dan mengurus lagi. Bagaimana tidak apa istimewanya kertas-kertas kusam berdebu itu, toh kalo disimpan membuat kamarku semakin sempit saja. Tapi setidaknya dibalik itu semua ada berjuta-juta rasa gundah gulana dari sang penulisnya. Jelas sekali sebagian goresan-goresan tintanya kabur tertindih air mata. Ah mungkin sang penulis habis mengupas bawang didapur atau mungkin ada debu yang masuk kematanya. Mustahil kalau terus-terusan begitu. Disetiap lembaran tulisanya selalu ku temukan bekas percikan air yang tak lain adalah tetesan air mata.
Aku hanya bisa memandangi tulisan-tulisan itu. Entah apa maksudku akupun juga tak tahu. Setiap ku goreskan tinta itu seolah ujung pena itu telah menyatu dengan jiwaku...